Korupsi di Masjid Salman

Khutbah Jumat di Salman 2 Mei yang lalu cukup ‘dalem’ meski sederhana. Tentang Korupsi dan kaitannya dengan kebersihan diri. Sayangnya Saya tak memperhatikan siapa nama Khatibnya. Tapi kalau diamati dari suara dan intonasinya, mirip Pa Miftah Faridl. Materinya cukup bagus untuk Saya dan Jamaah Salman simpan sendiri, dan sepertinya Saya butuh mekanisme khusus untuk lebih membantu mengingat isi khutbah yang berharga tersebut. Tulisan ini juga Saya khusus persembahkan pada sahabat-sahabat Saya yang sepertinya berpotensi korupsi namun malah tertidur saat khutbah, hehe.. Berikut ini intisari khutbah yang Saya tangkap dengan improvisasi seperlunya. Moga bermanfaat.

______
Rasulullah pernah mengawali sabdanya beliau sebagai berikut: “Allah itu adalah Dzat Yang Baik, Dzat Yang Suci. Ia hanya menerima yang baik-baik saja dari hamba-Nya”. (Kalimat ini disampaikan berulang-ulang, perlahan, penuh penekanan, dan menyertakan bahasa Arabnya. Menunjukkan referensi ini penting dan utama dalam khutbah ini).

Ada suatu cerita di jaman Rasulullah dulu. Dikisahkan di suatu waktu Rasul dan Sahabat-sahabatnya melihat seseorang tengah berdoa bersungguh-sungguh di tengah padang pasir yang terik dan gersang. Panasnya hari itu membakar kulitnya tak Ia hiraukan. Ia menangis terisak tanda kesungguhannya memohon pada-Nya. Pakaian dan wajahnya yang kumal dan kotor oleh debu dan keringat makin menunjukkan betapa seriusnya Ia memanjatkan Doa.

Salah seorang sahabat Nabi lantas berkata, “Bagaimana mungkin Allah tak akan mengabulkan permohonan Hamba-Nya yang seperti itu?”. Saat itulah Rasul menyahut, yang intinya “Tidak akan diterima permohonan dan Doanya, karena di dalam daging di dalam tubuhnya, terkandung sesuatu yang haram, yang bukan haknya.”

Inti dari kisah tersebut adalah menggambarkan betapa kesucian diri itu penting dalam hubungannya dengan diterimanya amal ibadah Kita di sisi-Nya. Namun yang perlu digaris bawahi adalah bukan hanya kesucian luar saja, tapi juga kesucian di dalam diri Kita. Kaitannya dengan korupsi, harta hasil korupsi itu seratus persen jelas keharamannya. Hebatnya, status haramnya bisa merembet kemana-mana. Jika Ia kita jadikan makanan, maka makanan yang masuk statusnya haram pula, hingga kemudian ujung-ujungnya ia merubah status darah daging kita pula: tak suci dan bersih lagi. Belum lagi jika harta tersbut juga dinikmati keluarga, anak, dan Istri kita.

Padahal, belajar dari kisah di atas, sesuatu yang haram yang masuk dalam tubuh kita, baik yang tampak maupun tidak, baik banyak atau sedikit, ternyata berefek begitu besar pada diri Kita: Kita makin jauh dari rahmat-Nya. Doa yang tak terkabul mungkin hanya satu dari sekian banyak imbasnya. Broken home, hilangnya ketenangan dalam batin, stress, musuh dimana-mana, Ip jeblok, ilmu dan pelajaran ga masuk-masuk juga, jodoh mampet dan penuh aral, bisa jadi imbasnya pula. (kok jadi curhat…?)

Betapa menghindari suatu yang haram ini sangat prioritas, dikisahkan pula suatu saat Saiyidina Abu Bakar bertemu pembantunya yang kebetulan sedang membawa satu piring makanan. Abu Bakar lantas menyantapnya dengan lahap. Bada’ makan, baru Ia bertanya pada sang Pembantu dari mana makanan tersebut Ia peroleh? Pembantu itu kemudian menceritakan ihwal dari mana makanan itu berasal. Ternyata, sebelumnya Ia sempat membantu kaum musyrikin yang sedang punya hajat. Ia lalu diberi makanan tersebut.

Terkejutlah Abu bakar mendengarnya. Ia sadar Ia khilaf tak menanyakannya sebelum Ia memakannya. “kenapa kamu ga bilang dari tadi, bisa jadi makanan tersebut tidak halal bagi Kita, bukankah tidak mungkin daging yang Saya makan tadi disembelih dengan tak menyebut asma-Nya?” kira-kira seperti itu inti yang Abu Bakar sampaikan. Meskipun rasul pernah menyebutkan dalam salah satu hadistnya bahwa tidak ada dosa untuk sesuatu yang lupa atau tak tahu, namunAbu Bakar tak mau mengambil keringanan itu. Segera Ia masuk telunjuknya ke tenggorokannya, untuk membantu memuntahkan kembali makanannya. Awalnya, makannnya tak mau keluar, malah yang seolah yang akan keluar justru bola mata beliau saking sulitnya memuntahkannya. Hinga kemudian seorang sahabat menyarankan untuk meminum air terlebih dulu biar lebih lancar dan dicoba lagi. Benar saja, seketika itu, Abu Bakar behasil memuntahkan, bukan saja makann yang tadi, tapi juga makanan-makanan yang Ia makan sebelum-sebelumnya hingga perutnya kosong.

“kenapa Engkau begitu menyiksa dirimu sedemikian untuk makanan haram yang engkau khilaf memakannya?” tanya seorang sahabat setelahnya. “Aku tak ingin ada sesuatu yang haram di dalam dagingku yang tumbuh bersamaku dan kubawa sepanjang hidupku” Jawab Abu Bakar kurang lebih seperti itu.

4 Tanggapan

  1. Hmm… Judulnya menipu :)

  2. itu ustadznya pak athian ali m da’i. ketua FUUI

  3. judulnya itu bikin heboh :D
    hehehe wah khutbah yang bermanfaat nih :D

  4. @reiSHA+ aRuL: iya, emang sengaja, klo ga kaya gitu, ga banyak yang mau baca.. hehe

    @errick: Oh, makasih bos…

Tinggalkan Balasan