Liputan GP: Kampung 200

Sabtu dan Ahad yang lalu Alhamdulillah akhirnya rangkaian acara Gamais Peduli (GP) selesai juga dilaksanakan dengan lancar dan sukses. Menutup seluruh rangkaian program kerja sektor yang Saya pegang di semester ini, akhirnya…

Sekilas tentang GP tahun ini, Kita memprioritaskan pada kepedulian masyarakat yang paling dekat dengan mahasiswa ITB, hingga kemudian diputuskan untuk mengambil tempat di Kampung 200, di kawasan Cisitu, tak jauh dari zona kos-kosan anak ITB. Pemilihan tempat ini sendiri bukan tanpa perhitungan sebelumnya, Kampung ini tercatat merupakan daerah yang terkenal rawan: rawan kemiskinan hingga aqidah, meskipun letaknya dikelilingi bagunan-bangunan megah di pusat kota.

Kampung ini terletak persis di bantaran sungai Cikapundung. Akibatnya topografi perkampungan ini landai dan berundak-undak. Saya sendiri sudah cukup kapok merasakan bolak-balik keluar masuk perkampungan ini, pegel. Beruntung, kegiatan-kegiatan sepanjang GP tak difokuskan di perkampungan ini, tapi di pelataran Gedung yang rencanya bakal digunakan untuk Asrama Putri ITB tak jauh dari perkampungan itu.

Yang sering jadi pertanyaan, mengapa dinamakan Kampung 200? Selidik punya selidik, konon Kampung yang saat ini memiliki 500-an warga ini baru terbentuk tahun 1996. Sebelumnya, tak dikenal istilah kampung 200. Awalnya, warga di kampung ini tinggal di wilayah yang sekarang ini menjadi gedung asrama putri ITB tempat GP dilaksanakan ini. Saat itu, pengembang gedung menggusur warga yang tinggal di sekitar sana dan memberikan kompensasi 200 ribu per KK karena akan dibangun proyek ini, meskipun akhirnya baru dibangun di tahun 2006. Nilai kompensasi itulah yang kemudian membuatnya terkenal dengan nama Kampung 200.

Perkampungan ini terdiri dari empat RT: 3, 4, 10, dan 11. Seluruhnya masuk dalam satu Rukun Warga yang sangat luas berisi 12 RT. Kondisi ekonomi an kesejahteraan Warga di RW tersebut bervariasi bahkan kadang jomplang. Ada yang super tajir, ada yang melarat seperti kampung 200 ini.

Sebagian besar warganya kalau tak menganggur, mereka bekerja serabutan: menjadi kuli bangunan, pembantu rumah tangga, tukang cuci, hingga pengamen dan peminta-minta di sekitaran simpang dago. Tak jarang, kerap kali Saya dan Kang Ma’mun ketika berhenti di perempatan simpang, bertemu anak-anak Kampung sana. Beruntungnya, cukup banyak yang berstatus sebagai anak sekolahan.

Kampung 200 sendiri sebenarnya sudah familiar sekali dengan Gamais, Salman, Botram!, dan Karisma. Kerap kali acara soial yang diadakan melibatkan Warga kampung ini. Di penghujung tahun lalu misalnya, Qurban dari mahasiswa ITB yang Gamais himpun sebagian disalurkan disana. Pengajian Ibu-ibu dan anak-anak juga rutin diadakan tiap ahad sore. Hingga kemudian, GP menjatuhkan pilihannya kembali ke Kampung ini.

5 Tanggapan

  1. wah, keren… tetap semangat di kegiatan sosialnya.

  2. [...] Gamais Peduli Gamais Peduli tuh acara bakti sosial yang dipanitiakan oleh beberapa muslim angkatan TPB (2007) yang juga bekerja sama dengan FIM (Forum Indonesia Muda). Targetnya kemarin adalah kampung 200. Untuk mengetahui lebih banyak tentang kampung 200, bisa diliat di sini [...]

  3. @ ahmad ridwan: makasi mas, minta doanya aja..

    @ Adjie: wah, pantesan rame. dapet link dari sini ternyata..

  4. [...] yang ada di kampung itu berjumlah ±200 orang, itu konon sejarahnya kampung 200 Bekasi. Tapi disebutkan, warga kampung yang sekarang bermukim di kawasan ini dahulunya digusur dan diberikan kompensasi [...]

  5. Assalamualaykum
    izin kutip yah. jazakumullahukhoir

Tinggalkan Balasan