Saya teringat guyonan teman saya waktu SD dulu. Ceritanya ada empat orang anak yang sedang sholat berjejer. Sedang khusyuk-khusyuknya tiba-tiba,
“Preeet”, salah seorang diantaranya yang berdiri paling ujung buang angin (kentut). Beruntung suaranya tak terlalu keras, hingga seorang disebelahnya saja yang mendengar. (entah kalau baunya, disitu tak diceritakan. hehe)
“Woi, kamu kentut, ya? Batal lho sholatnya”, kata anak sebelahnya itu.
Kontan anak ketiga di sebelahnya lagi nyeletuk, “Hus, sholat kok ngomong, sih? Ntar batal lho”
Anak terakhir tiba-tiba berbicara sendiri, “Dasar bodo nih temen-temenku semua. Untung aja aku gak ikut-ikutan ngomong”
Saya ketawa sendiri sewaktu ingat lagi cerita ini, selain karena jalan ceritanya yang memang lucu, saya juga teringat wajah kawan saya yang bercerita yang lebih seperti orang curhat ketimbang guyon. Haha. Jangan-jangan dia orang pertamanya.
Sayangnya saya tak bisa tertawa lebih lama, saya lihat ternyata ini Bukan Banyolan Biasa (BBB). Ada pelajaran berharga yang tersirat di dalamnya. Saya rasa cerita ini seolah memberi cerminan seperti apa kondisi bangsa kita saat ini. Gara-gara dipicu kentut [baca: kenaikan harga BBM], malah ribut sendiri, merasa paling benar dan tak pernah mau lihat coreng di jidat sendiri. Kita sering seperti anak-anak itu, tak sadar kalau energi kita habis lebih banyak untuk kritik sana kritik sini, menjadi paling hebat dan pintar, adu argumen, perdebatan tak berujung, tak mau mengalah, mencari celah dan cela orang lain , ketimbang introspeksi diri dan menghasilkan solusi berarti.
________
Bangkit itu…
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari yang kecil
Mulai saat ini
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Ditandai: BBM, guyon, kentut
nah, ini malah bikin artikel yg ngritik tukang kritik
*komen ini jgn diitung kritik, y…
Boleh kritik, asal bener. bener niat (isi) nya, bener cara menyampaikannya.. gitu kata aa gym.
cerita yang lucu
kocak bgt
iya,
terkadang, mengkritik itu salah satu cara buat nutupin kekurangan diri..
terlalu banyak penggunaan kata orang ke-2 atau ke-3 saat kita mencari solusi untuk suatu masalah.
kamu harusnya…
mereka semestinya…
terus kapan :
aku……..
bangkit itu
aku untuk indonesiaku
(kayak pernah denger)