Seminggu kemarin saya ikut Diklat Mahasiswa Muslim (DMM) yang diadakan oleh Gamais (Keluarga Mahasiswa Islam) ITB. DMM itu apa? Sebenarnya ga berbeda jauh dengan pelatihan dan diklat-diklat pada umumnya, di dalamnya berisi dialog tokoh, outbond, dan kunjungan perusahaan. Yang membuat DMM menarik dan khas, selain murah meriah (bayangkan dengan 100 ribu rupiah saja, bisa dapat makan, akomodasi, jalan-jalan, outbond, materi, kunjungan perusahaan, dll selama seminggu), juga pemilihan tempatnya yang oke punya. Tahun ini bertempat di Villa di Kebun Raya Cibodas, di kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur. Salah satu tempat wisata unggulan Jawa Barat sekaligus “kantor cabang” Kebun Raya Bogor yang terkenal itu. Tempat ini ada di 1275 meter di atas permukaan laut (dpl). Bersuhu udara rata-rata 18 derajat Celcius. Hmm, bisa dibayangkan dinginnya seperti apa, bandingkan dengan Bandung yang hanya 791 dpl dengan rata-rata suhu 23.1 derajat Celcius.
Dinginnya belum seberapa, yang lebih merepotkan: low signal. Memang ga terlalu bermasalah untuk sekedar telepon atau SMS, tapi jadi serba ribet kalau dipakai buat ngenet. Koneksi sering putus. Walhasil, saya rada jarang buka email, dan tentu saja, blog. But, well, hikmahnya saya lebih punya waktu untuk yang lain: menikmati ademnya, indahnya, segernya bumi cibodas, sambil sesekali main bola dengan teman-teman. Sepertinya memang benar apa kata orang, sewaktu-waktu kita perlu keluar dari rutinitas kita dan melakukan sesuatu yang tak biasanya agar bisa lebih menemukan makna kebahagiaan dalam hidup. Menghirup bersihnya udara pegunungan, berjalan-jalan dengan lebih santai, melepas pandangan sejauh-jauhnya, ngobrol apa saja dengan siapa saja, foto-foto narsis, teriak sekeras-kerasnya, tendang bola sejauh-jauhnya, lari sekencang-kencangnya, tiduran di atas rumput sambil memandangi langit. Hmm…
Balik lagi ke DMM, acaranya sendiri dimulai Ahad Pagi, 1 Juni sampai Sabtu Sore, 7 Juni. Sayangnya, gara-gara saya masih punya satu Ujian Akhir Semester (UAS) lagi di hari Seninnya, saya berangkat menyusul Selasa siang, hari ketiga DMM.
Saya berangkat bersama 5 orang lainnya yang menyusul memakai angkot. Perjalanan makan waktu lebih lama dari biasanya gara-gara di tengah jalan, angkot sewaan yang saya dan teman-teman tumpangi sempat nyasar dan ditilang akibat tak mengantongi surat izin trayek angkutan kota dari DLLAJ. Sampai sana sudah mendekati maghrib. Setelah membereskan barang bawaan dan sholat dhuhur-asar, saya bergabung dengan teman-teman kloter pertama. Wah, sudah rame ternyata, 200 -an orang lah.
Berarti total saya tidak ikut dua setengah hari DMM. Kata teman peserta dan panitia, sebelumnya materi diisi oleh Pak Hermawan (pembina Gamais), Ibu Irene Handono (mantan biarawati), dan… waduh lupa, euy. Sayang aja. Tapi gapapa, hari keempat (Rabu) ga kalah seru. Tokoh-tokohnya oke punya semua: Pak Dr. Eng. Ir.Teuku Abdullah Sanny, M.Sc. , Pak Palgunadi Setiawan, dan Pak Iman Taufik. Sayangnya, saking banyaknya cerita dari bapak-bapak ini, tak bisa diceritakan lebih detil disini. Insya Allah di bagian lain.
Di sela-sela materi itu, saya sempatkan bersama beberapa orang teman jalan-jalan keliling kebun raya termasuki ke air terjun, 750 meter dari Villa. Sebenarnya tak perlu sejauh itu, hanya saja karena kondisi topografinya, mengharuskan jalan setapak yang dibuat agak zigzag dan berkelok-kelok. Jalannya juga menurun, karena sebenarnya, kebun raya terletak di bagian atas dari air terjunnya. Di bagian bawah, kita musti berjalan lagi beberapa meter. Nah, biasanya, akan ada anak-anak kecil yang akan menawari payung atau jasa guide disini.
“Kasih berapa aja, kak. Ntar ditemenin ke air terjun.” kata mereka.
Akhirnya, sampai juga di air terjun. Asik, hawanya seger, pas banget apalagi saat itu lagi terik-teriknya. Engga terlalu lama kami di sana, cuma foto-foto dan maen air. Kebetulan juga saat itu ada kunjungan anak-anak (SD atau SMP). Tempat yang semula sepi sontak menjadi ramai.
Oiya, sore harinya kebetulan tak ada materi, diganti simulasi merancang bisnis plan. Ini bagian paling ngaco dan rame selain outbond. Peserta dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok (masing-masing ikhwan dan akhwat) dan disuruh membuat proposal bisnis dalam waktu 15 menit-an. Ceritanya ada investor yang punya dana 10 milyar siap mengucurkan dananya untuk 5 kelompok yang paling bagus bisnis plannya.
Kelompok saya merancang bisnis lapangan futsal. Tapi sayang, tidak lolos.Yang lolos justru kebanyakan tim akhwat. 4 tim akhwat 1 ikhwan. Ide bisnisnya kalau tak salah antara lain: sepatu akupuntur, kafe makanan minuman organik, pembangkit tenaga kotoran, terus… arrrghh maaf lupa, gara-gara terlalu ramai dan ribut sekali waktu itu.
Hari kelima (Kamis), kegiatan utamanya olahraga dan outbond. Bersama Tim trainer profesional spesialis outbond dari jakarta (Gibraltar Outdoor Adventure namanya), dari pagi sampai ashar kami musti menyelesaikan 5 pos tantangan permainan. Masing-masing punya nilai-nilai dan hikmah tersendiri di baliknya. Detilnya saya usahakan ceritakan di lain waktu, ya. Pokoknya seru lah. Bada Ashar, jam bebas = main bola.
Menjelang maghrib, peserta dikumpulkan oleh panitia untuk penjelasan kunjungan perusahaan esok harinya. Ada lima perusahaan yang akan dikunjungi: Bank Syariah Mandiri (BSM), Indosat, Medco, Rekayasa Industri (RekIn), dan Pertamina. Sayangnya masing-masing cuma bisa memilih satu karena keterbatasan waktu dan akomodasi. Tiap peserta musti memilih tiga alternatif berdasarkan prioritasnya dan panitia yang akan menentukan. Saya sendiri memilih Indosat. Alasannya? Ya iya lah, masa ya iya dong, gue kan anak (subjur) telkom gituh. Hehe. Engga juga sih, saya punya misi lain di balik itu, tapi rahasia, hihi.
Malamnya ada materi lagi, sayangnya saya tak mengikuti sampai selesai. Karena terlalu capek, seharian outbond dan maen bola, saya kabur ke dalam villa, pake jaket, syal, tutup kepala, kaus kaki, minum madu, terus tidur. Hehe. Hemat energi buat besok.
Hari keenam (Jum’at). Pagi-pagi kami sudah musti berkemas dan berangkat, perjalanan dari Cianjur ke Jakarta bisa makan waktu lama. Sebelumnya, pengumuman siapa-siapa saja yang berkunjung ke perusahaan mana saja dibacakan. Sesuai dugaan, saya dapat di Indosat. Yang tak diduga, banyak anak tambang yang ternyata dapat di Indosat pula bersama saya, sepertinya pilihan ketiga. Ada 60-an orang yang ke Indosat. Semua masuk dalam satu bis milik indosat. Setelah itu, tiap rombongan berpencar berangkat ke perusahaan tujuannya masing-masing.
Benar saja, jalanan macet, terutama mendekati Jakarta, membuat kami menghabiskan 3 jam lebih di jalanan. Sampai di Indosat jam 10-an, dan baru mulai presentasi seprapat jam kemudian. Presentasi dibawakan oleh humas Indosat dan ‘Gamais’-nya Indosat (Sentra Kegiatan Islam [SKI] Indosat). Sayang, waktunya singkat sekali, apalagi hari itu hari Jum’at, jam 11.45 musti sholat Jum’at. Tapi, Alhamdulillah semua lancar dan selesai tepat waktu. Saya juga sempat bertanya dan dapat souvenir tas kecil. Thanks Indosat. Overall, saya nilai penyambutan dari Indosat sangat baik dan hangat sekali, ditambah lagi snack, makan siang, dan souvenirnya. Kalau dibandingkan sama yang perusahaan lain, Indosat masih lebih baik, lah. Hehe, sori bercanda.
Peserta Ikhwan kemudian sholat Jum’at masih di Gedung Indosat, lantai empat. Ruang auditorium besar di sana dialihfungsikan menjadi tempat sholat. Penuh sekali. Sepertinya mayoritas karyawan Indosat. Setelahnya, kami meluncur ke Masjid Istiqlal untuk kumpul dengan rombongan dari kunjungan ke Pertamina sembari makan siang. Menjelang ashar, kami menuju ke Hotel Sahid, akan ada temu dengan Pak Hatta Rajasa, Mensesneg RI, disana. Selain ngobrol-ngobrol, tentu saja makan-makan. Kali ini perbaikan gizi. Haha. Bada Maghrib kami siap-siap ke Cibubur untuk bermalam. Belum sampai sana, di perjalanan sebagian besar sudah terlelap, entah kecapekan atau kekenyangan.
Hari terakhir (Sabtu), pagi-pagi kami segera angkat kaki dari Cibubur. Balik lagi ke Jakarta menyelesaikan satu lagi acara pamungkas kami di DMM: bertemu Pak Zuhal, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), alumni elektro ITB (OK Champ!), mantan Menristek juga. Kami dijamu di ‘rumah’ beliau, di UAI. Saya agak kaget pertama kali datang kesana. Arsitekturnya unik sekali. Masuk ke dalam, wah, yang unik bukan cuma arsitekturnya, nama-nama ruangannya pun unik. Bukan nama-nama pahlawan, tapi nama perusahaan dan tokoh yang sepertinya mensponsori pembangunannya. Ada Ruang Trimegah, Ruang Simpati Zone, Ruang BRI, dll. Raung Auditorium yang kami pakai saat itu saja misalnya, namanya Auditorium Arifin Panigoro. Wah, cerdas, ya? Uang gedung bisa dipangkas dengan metode sponsor seperti itu.
Selesai Pak Zuhal berbicara, rangkaian acara DMM ditutup oleh Pak Tjatur Sapto Edi, Ketua Ikatan Alumni Gamais ITB, yang juga anggota komisi VII DPR RI. Woaahhh. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Waktunya pulang dan kembali bekerja.
DIarsipkan di bawah: Cur Hard | Tagged: cibodas, DMM, gamais, indosat





















Walah, dah posting aja, panjang lagi… Aku kan juga mau posting soal DMM, hehe…
Yang business plan, itu salah satunya kelompokku lho, namanya Medical cafe, haha… Itu juga business plan hasil debat-debat ga jelas di dalam kelompok sampai2 aku pusing sendiri dengerin diskusi yang ngelantur kemana-mana, fyuh…
Soal kunjungan, kebagian Indosat juga. Padahal pilihan 2. Gara-gara jurusan niy kayanya jadi ditaruh ke Indosat, hehe…
kok kayaknya seru
@ reiSHA:
hehe, iya deh yang juara bisnis plen. btw, ga nyesel, kan ke Indosat…
@ restya:
haha, buat yang ga ikutan, ke laut aja ya… hehe
[...] panjang ya, hehe… Ya, kalau Albaz pakai judul postingan seperti yang dia tulis di sini, maka aku pilih empat kata itu saja, toh tetap saja menggambarkan Diklat Mahasiswa Muslim 2008 yang [...]
@K Albaz : wew… jahat sekali
wuih, jagoan nulisnya euy, sistematis historis. sama materi2 nya juga dong, terutama pak palgunadi yg tersohor itu.
beuh…narsis kali K Albaz nie, macam nak ada yg di ingini. tapi semua ok lah, dmm be a strong leader, jadilah pemimpin yang kuat, kuat mengemban amanah, kuat menahan kritikan bahkan cacian dari orang lain untuk kebaikan, kuat karakter sebagai panutan, kuat ibadah nya dari pada yang lain, kuat berinovasi secara cerdas sebagai penggerak dan kuat serta siap mempertanggungjawabkan segala yang telah dilakukan baik di dunia maupun di akhirat.
hidup bagaikan hidup, penuh liku penuh dera, tapi di balik itu menunggu sebuah kenikmatan abadi.
bgs nih tulisannya..
jd inget pas mw ikut2n daftar DMM,, tb2 ad yg blg,”oh maaf mba ni bkn tuk 07..”. hiks
setelah baca tulisan ini tambah kpengen ikutan…
btw ni albaz yg pernah ngisi taklim FAteHA(farmasi sith) y? kl g slh pas temanya public speakin’..
tulis penglamn2 menarik lainnya ya..
salam jitak ( jihad dan taqwa)!!
waduhh…
sayang gak bisa ikut. kmaren udah diajak temen tapi akunya (sok) sibuk.
menarik bgt kayaknya. hmm…sayang gak ikut’
(
wah..bro
minta foto2nya dong!!
yg ada synya juga tapi…kyknya yg diindosat wktu itu bgs.
@ oding:
waduh, ada mas panitia, euy…
@ eno:
iya, ini albaz yang waktu itu di Fateha. Ikutan DMM yang taun depan aja ya.
@ ajunk:
wah, calon bos nih… bolak balik jkt bandung..
@ panji:
wah, foto-foto yang ada entenya uda aku hapus ji.. hehe, entar kalo mau ente aku foto terus aku photoshop-in. gimana? hehe