Sabtu, 14 Juni kemarin, Saya mengikuti acara Bandung Bicara “Nyarios Atuh” yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, Himpunan Mahasiswa Planologi (HMP), dan PG-ESSAI (bukan Pilihan Berganda – Essai, tapi Pemuda Ganesha Emang Sayang Indonesia) ITB. Acara ini semacam diskusi dengan elemen-elemen penting di kota Bandung mulai dari pemerintah, budayawan, pengusaha, akademisi, sampai mahasiswa membahas permasalahan kota Bandung. Biasanya jarang-jarang saya mengikuti acara seperti ini, tapi sembari mengisi waktu kosong dan kebetulan keynote-nya ‘bapak’ saya sendiri: Dada Rosada, Walikota Bandung. Haha, engga juga sih, belakangan saya memang suka mengikuti perkembangan kota Bandung, terlebih menjelang pemilihan Walikota Agustus nanti. Ditambah lagi, sampai saat ini sudah teridentifikasi tiga orang dosen ITB maju di kancah pemilihan paling akbar di kota Bandung itu. Pak Taufikurahman, dosen sekaligus dekan di Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH), sebagi cawakot (calon walikota) yang diusung Partai keadilan Sejahtera (PKS). Pak Arry Akhmad Arman, dosen Teknik Elektro ITB, sebagai cawawakot (calon wakil walikota) independen. Dan Ibu Hetifah Sjaifudin, dosen Planologi ITB, sebagai cawawakot dari poros tengah.

KPA (Unit Angklung ITB) membuka acara Bandung Bicara “Nyarios Atuh”
Acaranya sendiri berlangsung dengan lancar dan hidup. Peserta yang hadir juga ramai dan heterogen karena panitia tak membatasi dari kalangan mahasiswa saja. Pelajar dan umum semua bisa bergabung di sini dan tentu saja, gratis, tinggal registrasi dan masuk saja. Selain Pak Dada Rosada, acara tersebut menghadirkan pula Bapak Andi Oetomo, Ir, M.Pl, (Dosen Planologi), Diding Syukri (dari perkumpulan “inisiatif”), Veri (Pemilik Factory Outlet),dan Mizan Bustanul Fuady (Kahim HMP) dengan abah Aat Suratin (budayawan) sebagai moderatornya. Sayangnya diskusi seperti tak berimbang, titik fokus diskusi ini ada pada Pak Dada Rosada, terbukti pada saat sesi tanya jawab hampir semua pertanyaan dan konfirmasi ditujukan pada beliau sebagai satu-satunya perwakilan dari pemerintah. Seolah menjadi ajang tanya jawab dan protes dari warga ke pemerintah. Dari total tiga penanya, dua adalah masyarakat umum (yang ternyata seorang guru dan satu lagi seorang pedagang) dan keduanya sama-sama seolah mewakili aspirasi rakyat kecil demonstrasi dan protes pada kinerja Pak Dada sebagai walikota.
Pembahasannya pun agak melebar dari tema yang seharusnya. Tema yang diangkat adalah “menyelesaikan permasalahan Kota Bandung dengan menggagas peran generasi muda”. Gara-gara pertanyaan yang general tadi, pembahasan yang diberikan oleh pembicara juga meluber kemana-mana. Terutama Pak Dada, yang harus menjelaskan panjang lebar protes dari warganya. Sampai lupa waktu juga. Agak melenceng dari tema dan terlalu singkat untuk pembicara sebanyak itu, tapi saya pribadi tak terlalu mempermasalahkan, toh malah membuat saya makin paham dan memandang lebih global tentang permasalahan kota Bandung. Lagipula, masalah kota bandung yang seabreg itu tak mungkin juga kan semuanya diakomodir dalam tempo singkat seperti itu. Sebagai awalan, acara seperti ini sudah bagus banget. Thanks buat panitia yang mati-matian ngadain acara ini. Two thumbs up lah.
Satu hal yang inspiring buat saya adalah saat kang Veri, salah satu Bos FO sukses di Kota Bandung memberikan gambarannya akan pentingnya peran pengusaha dan individu dalam membantu pemerintah menata Kota. Memang, dalam diskusi tersebut salah satu hal yang dititik beratkan adalah bahwa kota Bandung adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah tapi juga Swasta dan Masyarakat (terutama pengusaha dan pemuda).
“Dulu di depan Summit (FO miliknya .red) sempet ada pedagang Mi eKaki Lima mangkal tiap hari, saya bilang ke dia, Kamu bayar saya sebulan sejuta, saya kasih kamu tempat jualan di sebelah FO saya, tempatnya lebih bersih dan nyaman”
“Awalnya dia nolak, satu juta duit darimana? Sampai akhirnya dia mau, saya bilang, toh satu mangkok harganya dinaikkan serebu dua rebu ga masalah, kan? Tempatnya juga bagus dan nyaman, beda sama di emperan jalan.”
“Nyatanya, dia sukses di sana, tiga bulan sudah bisa beli motor malah.” kata Pak Veri berapi-api.
Yup. Sepakat dengan Pak Veri. Pengusaha punya peran strategis membantu atau malah merepotkan pemerintah membenahi Kota. Kata Pak Dada, untuk kasus pedagang, beliau benchmark ke Kota Denpasar, Bali. Disana tidak ada pedagang yang berjualan di sepanjang trotoar. Kalaupun berjualan, mereka masuk agak ke dalam dan tidak mengganggu pejalan kaki. Selain dari pihak pemerintah, pengusaha yang berada disekitarnya punya andil besar. Kasusnya sama seperti cerita Pak Veri di atas, kan?
“Di sepanjang jalan Dago engga banyak ada tuh pedagang kaki lima di trotoarnya, di tempat lain yang banyak FO-nya belum tentu. Kenapa bisa seperti itu? Itu karena peran Camatnya. Makanya rajin-rajin ngobrol-ngobrol juga dengan pejabat pemerintahan terkecil yang paling dekat dengan kita kalau memang kita peduli. Jangan sampai kita ngurusin yang besar, tapi lingkungan sekitar kita sendiri belum beres”. Sambungnya lagi. Hmm, jangan-jangan kita juga seperti itu, nama ketua RT di lingkungan Kos kita saja tidak tahu. Jadi inget pertanyaan sederhana saat pemilihan Presiden KM yang lalu. “Apakah kalian mengenal Ketua RT di tempat tinggal kalian? Kalau iya, siapa namanya?”.
“Mulailah dari lingkungan sekitar kita dulu”. begitu intisari pesan Pak Veri seperti 3M-nya Aa Gym. Memang untuk melakukan perubahan, kita seringkali tergoda untuk merubah mulai dari hal-hal yang besar. Padahal perubahan besar sejatinya kumpulan dari perubahan-perubahan kecil. Seperti Konsep yang diusung kawan-kawan Sampurna Foundation tahun ini: Small Changes for a Big Change, stepnya sudah jelas: dari yang kecil ke yang besar, tak boleh ada missing link. Yang seharusnya besar adalah cara berpikir kita. Inilah esensi sebenarnya dari “Think Big, Act Small”: berpikir mulai dari yang besar (globally), berbuat mulai dari yang kecil (locally).
“Mulai dari diri sendiri, dan Mulai saat ini” tambah Aa Gym.
DIarsipkan di bawah: Work Hard | Ditandai: walikota, bandung, ITB

yang penting “ACT”…
jangan omdo
wah, kalau untuk orang sekaliber albaz harusnya bukan think big act small, tapi think big act local..
soalnya bisa jadi act nya besar walau lokal. baru kemudian ke medan yang lebih luas lagi, tidak lokal lagi
FO di jalan dago itu merusak pemandangan, waktu saya juga ikut acara ini, saya sangat kesal dengan pernyataan pak veri ini,,haha,,boleh saja dia mengatakan FO dan PKL hidup selaras atau yang sejenisnya, saya dkk yang nonton, sangat sedih dengan kondisi arsitektur jalan dago. bangunan2 tua yang harusnya dijaga, malah dirusak dengan design seenaknya,, dulu jalan dago itu sederetan bangunan belanda, sekarang??berbagai tipe, yang yah jadi ga seragam, hadoooh, maaf numpang kesel doang, syukron..