Kisahkoe Tempoh Doeloe

Belakangan ini gerbang belakang Kampus ITB ramai dan macet bukan main. Membuat Saya musti sabar meski seringkali membuat telat sampai di tempat kerja (ciee, kerja euy… ). Ooohhh, ternyata ada pendaftaran SPMB toh. Eh, sekarang bukan SPMB lagi, tapi SNMPTN (Senam PTN) = Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Btw, ada yang tahu kenapa namanya diganti? Kayanya lebih keren SPMB deh. Hidup SPMB!! Hehe.

Melihat wajah-wajah muda yang bersemangat para calon peserta SNMPTN itu membuat saya ingin menulis kisah ini. Sebuah kisah dari negeri antah berantah tentang seorang anak manusia yang teng ah meniti cita-citanya menuju kampus Ganesha tercinta. Wahaha.

Ini cerita saya mengenang masa-masa perjuangan SPMB dulu yang berdarah-darah dan penuh perjuangan. Lebai ah. Masa-masa dimana serasa hidup ini cuma buat lulus SPMB semata. Semua potensi dicurahkan kesana. Rumus-rumus dan hapalan ditempel di semua sudut kamar, countdown menuju hari-H SPMB juga dipajang besar-besar, dan yang paling sering dilihat: Target soal yang musti dikerjakan hari ini dan kedepannya selama sebulan.

Positioning kamar saya benar-benar perhatikan, posisi menentukan prestasi. Harus benar-benar terkondisikan untuk membuat saya belajar, bukan yang lain. Barang-barang ga penting saya buang sementara. Yang ada hanya kasur, lemari baju, meja belajar, rak buku, dan my most powerfull books selama SPMB: 1001 Soal Jawab SPMB untuk semua mata pelajaran! Alhamdulillah saya cukup disiplin dengan jadwal yang saya buat waktu itu. Sebulan sebelum hari-H SPMB saya sudah khatam semuanya. Sementara kebanyakan teman-teman Saya baru memulainya.

Saya akui Saya termasuk yang memulai lebih awal mempersiapkan SPMB, dan ini ada alasannya (penasaran kan? Baca aja terus…). Ketika kebanyakan kawan Saya belum memikirkan meneruskan kuliah kemana, akhir Desember 2004 Saya sudah mulai mencicil soal-soal SPMB dengan rutin dan disiplin. Dan Alhamdulillah ternyata itu berpengaruh besar bagi persiapan SPMB saya, terutama mental. Saya jauh lebih siap dan semangat. Ini penting, karena katika kita siap dan punya impian yang sangat kuat, maka lingkungan akan seolah mendukung kita. Seperti kata Louise Pasteur: “Peluang selalu memihak pada pikiran yang siap”, banyak hal positif terjadi saat itu: mulai dari peringkat teratas setiap kali TryOut SPMB diadakan hingga menjuarai setiap perlombaan. Bukan hal yang terlalu istimewa sebenarnya, karena soal-soal yang dipakai di tryout dan lomba ternyata tak jauh dari soal-soal SPMB dan UMPTN tahun-tahun sebelumnya. Beruntungnya, waktu itu Saya lebih dulu siap dan sudah melahap soal-soal itu ketimbang yang lain.

Sebenarnya cerita seru behind the screen: my SPMB’s Story dimulai sejak pertama kali saya masuk bangku SMA. Tak banyak yang tahu saat itu Saya cita-cita kuat menjadi seorang dokter: Albaz Rosada, S. Ked. Targetnya adalah Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Selain karena Fakultas kedokteran dengan biaya paling murah, kualitasnya juga lumayan, waktu itu saja masuk dalam lima besar Fakultas Kedokteran unggulan selain kedokteran UI, UNPAD, UNAIR, dan UGM kalau ga salah. Dan yang paling penting, masuknya gampang, bahkan 90% saya haqqul yaqin masuk sana. “Bukan karena kuat dan hebatku” kalau kata Joy Indonesian Idol di lagunya, tapi karena dari SMA saya (Satu Denpasar) ke UnUd tak ubahnya dari SMA 3 Bandung masuk ITB, seperti pindah kelas saja, via jalur PMDK. Yang musti saya pikirkan saat itu adalah bagaimana bisa mempersiapkan ketika saya sudah diterima nanti disana. Saya fokus belajar biologi mati-matian. Saya berusaha one step ahead dibanding yang lain di bidang ini. Ketika yang lain masih belajar menghapal nama-nama ilmiah tulang yang sederhana dan umum seperti lumbalis, thorakalis, mandibula, dll, saya bahkan hafal nama-nama ilmiah lekukan, tonjolan tulang dan tulang ruas-ruas jari yang malah mungkin guru biologi saya pun tak tahu.

Saya juga membuat tempelan-tempelan “All about biology” di kamar. Yang masih begitu saya ingat: gambar klasifikasi “binomial nomenclature”, pembagian species hewan: molusca, anthropoda, gastropoda, dkk. Setiap hari saya pantengin tuh gambar sampai hapal diluar kapala. Nah, kalau yang terakhir ini pasti yang jarang dilakukan kebanyakan anak SMA waktu itu: membuat kliping kesehatan. Haha, lucu kalau ingat hal ini. Saya punya satu buku bekas ukuran folio yang didalamnya berisi kliping artikel kesehatan, rubrik tanya jawab masalah kesehatan, bologi, dan kedokteran. Rujukan utamanya didapat dari koran Jawa Pos. Isinya bervariasi sekali, mulai dari urusan katarak, gastritis, psikologi, sampai konsultasi feat dokter Boyke. Bener-bener calon dokter sejati lah.

Meski begitu, semakin lama saya makin kehilangan sense of dream saya. Saya makin merasa tidak sreg dengan pilihan saya ingin menjadi dokter. Saya tak menemukan ruh saya lagi di jalan itu. Banyak hal berkecamuk di Albaz muda waktu itu. Salah satunya adalah : that’s not my dream actually. Ya, itu sebenarnya adalah keinginan Ibu saya memiliki anak seorang dokter. Secara kakak saya sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kearah sana, saya lah yang kemudian didaulat dan didorong-dorong agar menjadi seperti itu. Awalnya saya tak begitu masalah, toh dokter juga profesi yang mulia, kan? Tapi ternyata yang berkecamuk bukan itu saja. Saya seolah lahir tidak untuk didesain sebagai seorang dokter, hapalan saya tak begitu kuat, dan saya lebih suka yang matematis. Aktifitas saya waktu itu pun banyak yang “ga nyambung” dengan cita-cita dokter saya. Saya malah banyak dipercaya untuk mewakili sekolah di lomba fisika. Padahal saya sudah mengazamkan untuk fokus di biologi. Pergolakan batin benar-benar terjadi saat itu. Sepertinya lingkungan saya dan saya pribadi sama-sama saling mendukung seolah ingin memberontak dengan cita-cita itu. Ya Allah, berikan yang terbaik bagi hamba-Mu ini…

Jreeng. Titik balik itu datang juga akhirnya. Suatu hari, menjelang kenaikan kelas tiga, saya jatuh sakit. Lumayan Parah. Panas dan lemes banget waktu itu. Tapi tak tahu penyakit apa. Kebetulan Ayah saya sedang keluar kota, maka berdua dengan Ibu, saya diantar ke dokter. Khawatir kanapa napa, saya di cek lab, darah saya disedot dan musti menunggu hasilnya beberapa saat (baca: beberapa jam). Sambil menunggu, saya ditinggal beristirahat sementara di ruang sebelah ibu saya ngobrol dengan sang dokter. Sepertinya ngobrol something serious.

Sekian lama menunggu, ternyata saya musti dirujuk ke rumah sakit lain yang pemeriksaan labnya lebih akurat. Maka meluncurlah saya dan ibu kesana. Nah, disinilah momen yang sepertinya takkan terlupa sepanjang hidup saya.

“Baz, kayaknya kamu ntar masuk teknik aja, ya..” kata ibu saya sambil terus mengendarai motornya.

Deg. Jantung saya berhenti sepersekian detik. Tak percaya. Seperti oase di tengah teriknya gurun pasir, kata-kata itu hadir tepat di saat saya tengah galau dengan cita-cita saya. Wajah saya langsung berbinar. Masih di jalan, saya serbu ibu saya dengan rentetan konfirmasi. Memastikan beliau tak salah ngomong atau saya yang tak salah dengar. Kata-kata tiba-tiba menjadi terdengar begitu bersemangat. Belum pernah saya se-powerfull saat itu.

Ibu saya memastikan pernyataannya sambil bercerita hasil obrolannya dengan ibu dokter tadi. Tentang mahalnya biaya kedokteran saat ini, prospek kedepannya, hingga sisi psikologisku. Beliau ternyata tahu benar gelagatku yang seolah tak sinkron dengan cita-cita dokternya. Oh, ibuku, emang paling tahu aku. Apapun kata-katanya, saat itu terdengar menyejukkan dan makin meyakinkan saya untuk berpaling dari kedokteran. Selama-lamanya. Hiks-hiks, jadi pengen nangis.

Dunia seolah menjadi cerah, semua orang, di sepanjang perjalanan terlihat sangat bahagia. Yang sedang manyun gara-gara panas dan macet sekalipun. Pikiran ini serasa ringan sekali, semua beban tiba-tiba lepas satu persatu tertinggal laju 40 km perjam motor yang kami naiki. Saya pererat pegangan saya di motor. Saya tak mau momen ini hilang begitu saja.

Hasil lab? Ah ga peduli lagi. Bahkan ketika ditawari untuk opname di rumah sakit, saya menolak. Saya sudah sehat. Wal Afiat malah. Yang ada dipikiran saya waktu itu cuma segera pulang ke rumah, membumi hanguskan semua properti cita-cita lama saya: poster dan tempelan-tempelan di kamar, buku-buku biologi, dan kliping kesehatan. Dan mulai merancang cita-cita yang baru.

“tapi ntar nyari istri dokter, ya… ” hahaha, saya tiba-tiba membayangkan ibu saya mengatakan itu di perjalanan pulang. Hehe. Yang ini ga usah diambil serius, ya.

Yah, itulah kisahku, sejak saat itu, sekitar Desember 2004, saya mulai dengan cita-cita baru, yang lebih punya taste: masuk teknik elektro ITB. Sadar bahwa saya selama ini tenggelam terlalu jauh di biologi, saya harus mengejar dengan lebih awal mempersiapkan semuanya. Walhasil, sejak Desember saya sudah mulai dengan soal-soal SPMB saya. Dan Alhamdulillah, saya belum terlambat. Belum terlambat sama sekali.

lesson lerned: Dream is 50% of success. Plot your dream, as simple as you imagine it, be focuse and work smart, work hard.
“Whatever your goal, you can get there if you’re willing to work” begitu tambahan dari ibu Oprah.

26 Tanggapan

  1. Santai kak, ada penerus Biologi-nya kok (saya), hehe.. Kayanya saya harus banyak belajar Biologi sama Calon suami dokter nih.. :)

  2. Hoho,,, Kayanya cita-cita jadi dokter tu dah jadi cita-cita standar ya, hehe,,,

    Aku dulu juga pernah punya keinginan untuk jadi dokter, tapi aku batalin. Alasannya: males banget baca buku2 tebal, trus kudu dihapalin pula, haha,,,

    Aku juga pernah nulis di blog ku ‘kisakhu tempoh doeloe’. Ada di http://reisha.wordpress.com/2007/07/03/spmb-a-long-journey-to-itb/ hehe,,,

  3. Baz, baru mampir daku. he3… blognya asyik :>

    Salut sama kmu Baz ! Sejak kecil dah terbiasa hidup teratur & fokus dengan tujuan. Ga kyk aku :(

    Kyknya nasib kita hampir sama Baz. aq lahir dikeluarga yang sebagian besar terjun di bidang kesehatan. Ayah aq & ka2knya profesinya dokter semua. Dari keluaga laennya, klo ga jadi dokter, artinya jadi suster ‘n perawat. Pokokny dah deket bgt lah ma dunia kesehatan.

    Dari kecil aq sering ngeliat-liat ayahku ngelayanin pasiennya. mulai dari ‘menginterogasi pasien’, diagnosa, ngasih resep dengan ’syntax-syntax aneh’ (halah), dll. Bahkan wkt msh kelas 6 SD aku dah ikut2an bantuin ayah ngukur tekanan darah pasien pake tensimeter. Trus, pernah juga aku tertarik ma refleksi. Sempet hafal jalur2 pembuluh darah & syaraf apa aj yang nyambung dibagian telapak kaki yang mana.

    Waktu mo lu2s SMA, ibuku nganjurin (rada maksa) aku msk jur FK biar nnt jadi dokter kyk ayah. Syngnya tiba-tiba ‘perasaan itu’ lenyap begitu aj. Ga tau knp. Mungkin inilah kekuasaan Allah kali ya Baz. Tiba-tiba Ia mengubah apa yang ada di qalbu seseorang. Yaah anggap aj itu semua ‘rencana yang indah dari Allah’ bwt kita :>

  4. Dari namanya aja udah biologi : Eclipta Alba (urang-aring). He2

    Klo boleh sedikit sharing… I do love biology
    bahkan sempat menangis terharu waktu mempelajari kerumitan proses metabolisme…

    Masalahnya, terdapat kekhawatiran akan munculnya keinginan bereksperimen dengan manusia… Mending cari aman dan bereksprimen dengan komputer. Ho3.

    Well, semoga sebuah proses belajar dapat dinikmati sebagai sebuah seni yang lebih dari sekedar menjawab soal ujian :)

  5. wah wah wah…
    seru buanget cerita dealbaz ini… :D
    selamat ya, dah masuk EL ITB (very very belated..:D)

    hayo hayo, berarti sekarang tinggal usaha mencari pendamping yang dia seorang dokterwati dong, hehehe….

    c u very soon……

  6. @ semua:
    wah-wah yang komen rata-rata punya “trauma” [baca: kenangan] tersendiri dengan dunia biologi dan kedokteran yah…

    @ K’ Arifs:
    Wah, ada Mas Arif euy. Ini Mas Arif yang di Itali itu, kan?

    wuih, masih bisa bahasa indonesia ya? hehe. gimana kabar di sana mas?

    enak ya, lagi musim europhoria kayak gini. pasti rame di sana… apalagi kalo bisa nonton langsung..
    sayangnya itali ga tembus…

  7. Heeee??? Jawa Pos nyampe Bali toh??!!! WAW

  8. @ dewantika:
    plis deh, emangnya kediri?
    hehehe, buat warga kediri, sori yah….

  9. kedokteran paling murah ???
    paling murah moyang loe (kata yunus .. hehehe) …
    dimana2 kedokteran itu paling mahal baz …
    btw, 1001 soal itu kaiaknya buku wajib yah …

  10. Oh, sori pak. maksudny FK udayana yg paling murah dibanding FK-FK d univ lainnya.

  11. Baz, izin nge-fetch blog ente di http://blogs.gamais.itb.ac.id

  12. @ aisar: mangga Sar.

  13. baz..
    kenapa gak masuk TL aja ?

  14. tentang albaz ketika saya mengenal awal anaknya humoris,aneh,supel dan semuanya deh.
    KENAPA GAK MASUK KEDOKTERAN UI AJA ATAU UGM khan keren?

  15. kok plis deh? pan bali ga sepulau ma jawa..ga punya ya bali pos

    btw, mau melnjutkan mitos el itb dpt jodoh dokter ya?hehe..brg2 ma muhyan tuh..
    kalo ak dpt jodoh dokter jg gmn ya.. :”>

  16. anyway…kok aq ngerasa ad yg lagi muji diri ndiri, y? he2

    @dewantika : ramalanku kok sampeyan enthuk dokter hewan, yo (spesialis ayam…biar ayame ga kena manuk pilek)

  17. @restya : eheheehe..boleh juga tuh…biar si David Silva-ku sehat selalu..

  18. wahh…jadi terharu mendengar kisahnya.
    slamat slamat…anda telah mencapai satu bagian dari cita2 anda

    Ya memang se, kalo cita-cita yang dipaksakan akan gak baek juga…
    btw aku juga pernah nempel rumus di kamar kosan.rumus sinus cosinus…yahh sekarang udah agak lupa’ :D

  19. Sebagai calon penerus di EL, minta tips and triknya, ya!!!

  20. waw… hebat euy!

    ceritanya aga mirip (ga juga sih, ga minat ke kedokteran)
    tapi ada bagian yg mirip sih jadi pengen ketawa.

    Yah intinya yang tau kemampuan kita ya diri kita sendiri, mengutip judul sebuah buku, va dove ti posta il cuore (pergilah kemana hatimu membawamu)

  21. wah, kalo gw rada kebalik ceritanya,, hehe
    wkt itu hampir aja gak ngambil “kursi” di IF gara2 mw ngambil yg mesin. Trus didorong2 ama ortu, sekarang gw ngerasa bruntung banget ngambil IF bkannya yg laen :)

    btw, pak HNW istrinya dokter loh.. :D

  22. @ nanda unila:
    Wah, bro nanda ini bisa aja. gimana kabar lampung? kapan ke bandung lagi?

    link blognya kok isinya tulisanku semua, ya? hehe.

  23. jd pengen dapet istri dokter ne?????????bisa….bisa ,bisa saya carikan maksudnya hieeeeeee………

  24. oya…..ciri2nya kaya pa ja,ngalih jua kaina kada tahu selera pian.handak yang bungas atao kada?????????

  25. setuuuuuuuuuuuujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

  26. kebalek dengan aku bas ya?
    tampaknya kamu bener2 uda milih jalan yg bener buat kuliahmu..
    aku yg lebih senang matematis ( walopun gak pinter kaya kamu bas) malah jatuh ke fk juga nih gara2 dorongan ortu..
    tapi aku akan responsible dengan pilihan setengah hatiku waktu itu bas..
    udah jalan hidupku..
    inget2 temen lamamu ini..
    salam dari bali..

Tinggalkan Balasan