Semester ini aku mengambil kuliah Kesehatan Lingkungan. Mata Kuliah Teknik Lingkungan yang sayangnya kelasnya tak bersama-sama dengan mahasiswa Teknik Lingkungan.
. Lebih parah lagi, mulai tahun ini ada kebijakan untuk memberikan tugas besar pada mahasiswa: membuat produk audio visual tentang isu lingkungan.
Aku dan tim memutuskan membuat video. Sebenarnya keputusan tersebut sangatlah riskan, karena aku dan tim merupakan golongan tua mahasiswa ITB: punya kesibukan sendiri-sendiri, jarang bertemu, tidak punya pengalaman membuat video sebelumnya, dan yang paling penting adalah bahwa mata kuliah ini mungkin saja menempati prioritas ke sekian setelah TA dan mata kuliah lain yang menguras tenaga (tanpa mengurangi rasa hormat dan respek kami pada mata kuliah ini tentunya).
But its OK, tidak masalah, Tugas tetaplah tugas, mau tidak mau harus dijalankan sepenuh hati. Siapa tau kita belajar banyak hal baru lewat tugas ini. Akhirnya diambil solusi: video dibuat sesederhana tapi semaksimal kita bisa. Konsep gak usah ribet-ribet, intinya adalah mensajikan data-data seputar lingkungan yang sudah ada dalam bentuk video. Data bisa dicari di majalah atau minta ke lembaga terkait. Alurnya juga gak usah terlalu pusing dipikirin, cukup ambil satu lagu dengan durasi sekitar 5 menitan dan jadikan itu backsound dan batas selesainya video. Jadi flow selanjutnya mengikuti irama lagu. Simple banget.
Maka, tim yang terdiri dari lima orang itu dibagi2. Ada yang nyari data, ada yang nyuting, dan ada yang nyari lagu yang pas, gambar, dan video tambahan dari youtube misalnya. Aku kebagian di editing dan memaksaku berkenalan dengan Adobe premiere dan total video converter. Itung2 belajar sofwer baru. Pembagian tugas ternyata cukup bagus, kita bisa kerja sendiri-sendiri dan paralel. Tinggal sesuaikan sama tema dan deadlinenya. Oia, tema yang diambil oleh tim kami adalah polusi timbal (Pb) di kota bandung. Pertimbangannya, selain data yang didapat cukup komplit, proses shooting juga gampang: tinggal rekam atau jepret asep kendaraan di jalan raya.


Well, sebenernya bukan tentang tugas ini yang akan aku ingin soroti, bukan juga tentang Teknik Lingkungan, tetapi tentang salah satu video yang aku dapatkan dari timku. Karena aku bagian editing, semua data, video, dan lagu disetorkan kepadaku. Ada satu video yang bagus banget. Videonya Honda. Bukan tentang iklan motor atau mobil Honda pastinya. Tapi video dokumenter tentang “dream the imposible”-nya Honda. Bagian research and development-nya Honda punya nih.
Video tersebut berisi komentar beberapa orang dari bermacem-macem keahlian dan bidang keilmuan tentang “transportation in 2088″. Ada dari internal Honda sendiri seperti engineernya, desainernya, dll, dan dari pihak luar Honda (science fiction writer, researcher, film director, dll). Mereka ditanya bagaimana sih pandangan dan ramalan mereka tentang transportasi di tahun 2088, 80 tahun dari sekarang (videonya produksi tahun 2008 .red).
Videonya dibuat begitu profesional: alurnya maknyus, gambarnya tajam, kata-katanya jelas, dan ada kesinambungan ide yang baik. Wah, aku yang baru pertama kali ngebuat video untuk tugas Kesling ini tau bener mereka tidak main-main membuat nya. Heran juga, menurutku, ide membuat video dokumenter adalah hal yang sepele sekali, apalagi dengan topik sederhana seperti itu, tapi entah mengapa Honda membuatnya dengan begitu profesional dan serius sekali? Ini yang mustinya kita pelajari dari perusahaan ini.
Kalau di lihat di videonya, bisa dilihat awalnya para narasumber bingung tuh waktu dikasi pertanyaan sederhana seperti itu. Gak kepikiran. Garuk-garuk. Kok kayanya main-main nanyanya, padahal untuk video dokumenter perusahaan sebesar Honda. Tapi setelah itu, mengalir banyak ide yang menarik dan out of box. Dan karena narasumbernya dari berbagai pihak, sudut pandangnya juga bermacem-macem, dan ini nilai lebihnya. Brainstorming ide ala Honda. Kalau dalam ilmu management hal ini dinamakan Knowledge Manajemen.






Honda sebagai perusahaan besar sepertinya sadar banget bahwa mereka maju bukan karena SDM mereka yang hebat-hebat, tapi karena “ide dan mimpi” SDM mereka yang hebat-hebat. Apalagi dengan mottonya “the power of Dream”, mereka sadar mereka maju bermodalkan mimpi dan ide. Mereka benar-benar menghargai ide, sesederhana apapun itu. Dan itulah yang musti dijaga. SDM bisa saja hengkang dari perusahaan atau meninggal dunia, tapi ide dan mimpi mereka tidak boleh ikut lenyap begitu saja. Musti tetap bisa dimanfaatkan terus untuk kemajuan perusahaan. Inilah perwujudan dari semangat Kaizen, continuous improvement. Tiada Kaizen tanpa dokumentasi dan referensi. Salah satunya lewat video dokumenter ini. Dan hebatnya video adalah bukan hanya mentransfer ide dan mimpi saja, tapi juga semangatnya bisa ikut tertularkan. Disini faktor kepiawaian editing video juga mulai berpengaruh menentukan “sense” yang ingin diangkat. Maka, wajar saja Honda membuat video ini dengan begitu profesional dan serius. Two thumbs up deh.
Sekali lagi, Mustinya kita belajar dari Honda tantang riset dan dokumentasi. Sepertinya kita masih lemah disitu. Kalaupun ada, biasanya tidak dikelola secara profesional, amburadul, dan sebatas formalitas saja. Ketika aku dapat amanah tertentu di suatu organisasi misalnya, susah sekali untuk memperoleh data-data dan dokumentasi yang memadai dan komplit tentang organisasi tersebut tahun-tahun sebelumnya. Kalaupun ada, paling hanya sepotong-sepotong. Wah, gimana mau mengambil kesimpulan dari info yang sepotong-sepotong? Akhirnya, trial n error lagi, mulai dari nol lagi. Kalau sudah seperti ini, kapan mau majunya? Tiap ganti kepengurusan mulai dari nol lagi. Kayak ngisi bensin aja.
Nb: kalo mau, video-nya bisa dicari sendiri di Youtube, yah.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized
keren baz, tulisanmu.
the power of dream,ya?
penting banget tuh.
awal dari segalanya..
tengkyu bro..
kapan kumpul lagi ni?
Link sudah saya add mas, mohon di linkback blog saya. Salam blogger, terimakasih.