Cerita Rakyat Jawa Barat: Bebek Katsu

Beberapa waktu yang lalu saya dan 3 orang kawan makan malam bersama di Bebek Van Java cabang dipati ukur. Buat warga bandung pastinya tau lah ya restoran bebek yang cukup terkenal ini. Kami memesan 2 bebek kalasan dan 2 paket bebek katsu. Bebek kalasan itu bebek potong biasa, mirip dengan bebek goreng atau bebek bakar, kalau bebek katsu itu daging bebek dilapis tepung dan digoreng. Paket bebek katsu ini kebetulan adalah menu promo restoran ini, jadi gambar masakan bebek katsu terdapat pada berbagai display di dalam restoran. (wedeuw, gaya ngomong gw udah kaya tim marketingnya bebek van java ni)

Beberapa saat menunggu, pesanan datang juga. Satu wadah berisi 2 potong bebek angsa, angsa di kuali, nona minta dansa, dansa empat kali. Hehe. Maksudnya 2 potong bebek dalam kondisi yang cukup mengenaskan, didalamnya juga ada beberapa panganan coklat-coklat krispi yang sejurus kemudian kami sadari ternyata bentuknya mirip dengan display bebek katsu, jadi segera kami simpulkan bahwa itulah bebek katsu dan ternyata mungkin ini kekhasan makan di bebek van java: semua pesanan kami ditaruh dalam satu wadah.

Datang pula satu bakul kecil nasi putih yang ketika pertama kali melihatnya kami tidak yakin itu porsi untuk 4 orang. Terlalu sedikit. But, its ok. Lagi-lagi kami berhusnudzon mungkin inilah kekhasan restoran ini: nasinya dikit, lauknya agak banyak. Dengan agak bingung tapi tetep PD, kami berempat segera mengambil piring, mengambil nasi dan berbagi lauk pauk. Perlahan tetapi pasti. Saat itu pula lah kami juga mulai merasa ada beberapa pasang mata menatap ke arah kami dengan wajah heran, terutama dari sudut meja kasir dan karyawan. But its OK. Berhubung sudah terlanjur, kami tegas katakan: LANJUTKAN.

Saya dan teman sebelah saya yang kebetulan memesan bebek kalasan langsung mengambil 2 potong bebek yang tersedia, sedangkan dua kawan saya yang lain masih berusaha tetap tegar ditengah kebimbangan mereka sambil mengambil sebentuk panganan coklat-coklat krispi. Satu pertanyaan yang berkecamuk di pikiran mereka: benarkah ini bebek katsu yang mereka pesan?

“kok kayaknya gak ada bebeknya ya?”

Mereka mulai melirik ke display yang ada. Membandingkan antara makanan yang didapat dengan foto makanan yang seharusnya. Sambil tetap memasang wajah cool tentunya. Kok agak beda ya yang di display dan yang diterima? Ah, peduli amat. Singkat cerita, akhirnya kami berempat makan juga. Saya dan kawan saya yang makan bebek kalasan lahap sekali. Kondisi berbeda terjadi di kubu bebek katsu. Dengan wajah cool tapi perasaan kesal karena merasa ditipu oleh display, mereka melahap makanan mereka dengan sangat “berwibawa” (baca: perlahan-lahan dan malu-malu kucing).

Hingga beberapa saat kemudian. Pada saat makanan yang kami makan mulai berkurang setengahnya. Datang sesosok mas-mas. Sambil tersenyum penuh makna. Dan sedikit melirik pada pangan coklat-coklat krispi yang tengah disantap dengan lahapnya oleh kawan saya. Mas-mas itu juga membawa dua buah piring berisi sesuatu. Apakah sesuatu itu?

ENG-ING-ENG..

“Inilah dia yang telah lama ditunggu-tunggu kehadirannya. Menu andalan kami sodara-sodara, menu terdahsyat abad ini. Menggoyang lidah, menggoda iman, mengguncang dunia. Mari kita sambut dan beri applause yang meriah untuk: BEBEK KATSU VAN JAVA…. VA… VA.. VA. (efek echo)” seolah kata-kata tersebut keluar dengan megahnya dari mulut si mas karyawan restoran ini sambil menyorongkan kedua buah piring yang dibawanya.

“masnya salah meja kali ya, kita dari tadi sudah makan bebek katsu-nya, lha ini apa?”, “kalo yang dibawa mas-mas ini bebek katsu, lha terus yang kita makan tadi apa dong?”, “pantes aja mas-mas dan mbak-mbak tadi senyum-senyum” tiba-tiba daya analisis kami bekerja maksimal. Banyak tanda tanya berkecamuk di otak kami. Kedua kawan saya yang memesan bebek katsu masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Karena kini ditangan mereka masih bercokol coklat-coklat krispi yang mereka yakini sebagai bebek katsu. Mulut mereka pun belum kering dengan sisa-sisa krispi bebek katsu versi mereka. Namun, kini mas-mas tersebut datang dengan penuh keyakinan bahwa bebek katsu yang dibawanya lah yang asli.

Dunia berhenti sesaat. Hingga akhirnya kami tiba pada suatu kesimpulan bahwa: OKE, kami akui kami lah yang katrok, bebek katsu yang kami makan tadi adalah bebek katsu gadungan (baca: kremesan, tanpa mengandung bebek sedikitpun) dan dengan PD-nya tetap kami makan, dan menu yang baru saja datang adalah the real bebek katsu plus nasi putihnya (dan persis seperti yang ada di display).

Hehehe. Sekilas wajah kami mulai memerah, dan itu bukan karena kepedesan. Senyum-senyum dikit, lirik kanan kiri berharap tidak banyak pengunjung lain yang sadar akan “kekreatifan” kami. Tarik napas, stay cool, dan mulai mengatur piring di meja: menggantikan posisi bebek katsu gadungan dengan the real bebek katsu. Setidaknya kami bersyukur, kremesan yang dimakan belum habis.

Lesson learned: bagi anda yang ingin membuka restoran bebek, cukup sediakan kremesan sebagai pengganti bebek katsu. Menguntungkan bagi anda, juga bagi konsumen (setidaknya jika komsumen itu adalah kami berempat). Hehe.

12 Tanggapan

  1. Ha..ha..ha..ha.. keliatannya ceritanya mirip banget dengan cerita gw dan teman-teman gw deh pas lagi mau makan ke Bebek van java. Waktu itu kita benar-benar hampir tewas ketawa sambil makan karena terjadi sebuah ‘kesalahpahaman’ dengan bebek katsu.

    Mungkin sang penjual harus bilang: “ini bebek kalasannya’ pas dia ngasih bebek kalasan. he..he..

  2. kasian banget ya kalian..hihihihihi……makanya begaul dungs..biasa makan di madtari sih..hahahaha..317x

    lempar batu sembunyi (kan) bebek

    hikmahnya: sukses bagi si rajin..eh…learn by experience…semoga tidak terulang kembali

    salam,
    penggemar bebek katsu

  3. gak enak Bebek Van Java, lebih enak Bebek di depan Boromeus tuh, maknyusss… dulu pernah sekali ke Bebek Van Java mengecewakan, gak dikasih minum pula (cari teh tawar ato aer putih ndak dikasih, tahpapa…)

  4. bebeknya katsu, yang makannya katro, katsian banget ya,hehehe..
    untung katsirnya mirif aura..

  5. @ yudha: gak ada kayaknya..

  6. yap!!!
    kasir yang ku temuin dan goda2 gitu emang mirif aura.
    emang yang waktu kelean ksana kaya apa bentuk nya tuh kasir???

  7. yupp!!!
    kasir yang waktu itu nemuin aku dan goda2 gitu emang mirif aura.
    emang yang waktu itu kelean temon bentuknya kaya apa???

Tinggalkan Balasan