Most favorite movies: ga suka nonton film, masih belum bisa jaga pandangan.
Itu salah satu keterangan yang pernah ada di dalam friendster info gw beberapa tahun yang lalu. Gw sadar pada waktu itu kondisi gw lagi idealis-idealisnya. Biasa, anak muda. Semakin kesini gw berusaha coba lebih soft dan sedikit rasional, bahwa gak semua film dan media itu jelek, dan gak semua film dan media itu gak punya pesan moral yang bagus. Beruntungnya semakin kesini kita semakin punya banyak pilihan film dan media. Makin banyak pilihan channel TV. TV berbayar dan tidak berbayar juga ada. So, tinggal pinter-pinternya kita milih aja mana yang bagus buat “makanan” otak kita mana yang tidak.
Sebenernya, yang gw maksud “jaga pandangan” waktu itu lebih pada tindakan preventif, menurut gw media atau film punya pengaruh cukup besar bagi kita dalam berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak, so musti hati-hati sekali. Dari buku-buku yang pernah gw baca, otak kita sebenernya mirip seperti tubuh kita. Butuh diberi makanan setiap harinya. Dan makanan itulah yang mempengaruhi bagaimana kita. You are what you eat. Masalahnya, makanan buat otak itu susah untuk difilternya, kita ga bisa menahan informasi yang bersliweran di sekitar kita untuk masuk ke alam pikiran sadar dan bawah sadar kita. Berbeda dengan makanan buat tubuh kita yang kita bisa pilih-pilih. So, ketika kita berjuang keras untuk menahan tidak makan emping karena takut aam urat, seperti itu pula mustinya kita menahan diri dari informasi-informasi yang buruk bagi kita. Ketika kita berjuang keras untuk pantang merokok, seperti itu juga mustinya kita pantang pada hal-hal buruk bagi pikiran kita. (yang pada kenyataannya emang susah sih, gw baru bisa ngemeng doang)

Ketika kita nonton infotainment bisa jadi kita berusaha untuk tidak terpengaruh, ok, that’s good, tapi menurut gw pasti setidaknya ada sebagian informasi yang masuk (minimal ke alam bawah sadar kita) dan bisa terakumulasi hingga suatu saat membuncah dan mempengaruhi kita berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak.
Simpelnya gini deh,misalkan muncul berita tantang ke-ngganteng-an seorang albaz rosada di banyak media (tentu saja ini tidak mungkin terjadi di dunia nyata, yang merasa lebih ganteng santai saja, kalem). Di media semua berita yang mendukung tentang ke-ngganteng-an gw diangkat, sementara yang kontra (lebih banyak pastinya, hehe) tidak dimasukkan. Polling-polling di surat kabar baik cetak dan elektronik pun setuju menempatkan albaz pada jajaran top 10 orang ganteng sedunia mengalahkan tora sudiro, christian sugiono, ariel piterpan, dan ki joko bodo. Presiden SBY bahkan meng-iya-kan hal tersebut dan memberikan testimoni. (ini misalkan lo, bukan beneran, ampun saya jangan ditangkap).
Kira-kira bagaimana respon anda mendengar berita ini?
Menurut analisis gw, ini yang terjadi di alam bawah sadar anda.
Ketika mendengar berita tersebut untuk pertama kali, respon anda: Gile nih berita, yang bener aja??? Ngaco nih berita.
Kedua kalinya, respon anda: Ah, yang bener? Perasaan biasa aja ah. Standar, gak ganteng-ganteng amat.
Kesepuluh kali: sebenernya gak ganteng sih, tapi enak diliat.
Kelima puluh kali: mmm, sebenernya kalo diliat-liat lagi ada benernya juga sih. Lumayan ganteng juga loh.
Keseratus kali: ganteng.
Kelimaratus kali: ganteng sekali.
Keseribu kali: amat ganteng sekali
Kesejuta kalI: Amat sangat super duper ganteng sekali banget!!!
Kesepuluh juta kali: muntah.
Yah, beginilah media bekerja. Kalo dalam ilmu kesehatan lingkungan, bisa dianggep seperti polusi yang menyebabkan suatu penyakit. Dan penyakit yang disebabkan oleh polusi itu ada dua jenis: akut dan kronis. Akut itu kalau penyakit tiba-tiba timbul sangat cepat akibat dosis polutan yang terlalu besar, sedangkan disebut kronis jika penyakit timbul dalam tempo cukup lama, karena dosis polutan sedikit tapi konsisten. Menurut gw, media juga seperti itu, punya efek akut dan kronis. Mungkin lebih banyak yang kronisnya, seperti penyakit, kadang tidak kita sadari, butuh waktu lumayan lama, tapi secara konsisten masuk ke pikiran kita dan jika terakumulasi bisa berbahaya suatu hari nanti. Dan kalo sudah begitu biasanya susah disembuhkan.
Well, itu sekedar contoh sederhana dari gw. Gw yakin kenyataannya bisa lebih parah dari itu. Kalo Cuma berita ke-ngganteng-an gw aja sih mungkin tak akan banyak merubah bangsa ini (paling makin banyak cowo2 yang sirik aja. hehe), tentu berbeda jika berita yang sering terekspos adalah (misalnya) tentang maraknya perceraian artis, budaya seks bebas remaja kita, budaya korupsi yang semakin dianggep lumrah, ganyang malaysia, rasa hormat ke orang tua yang makin luntur, budaya instan untuk menjadi sukses, dll. Untuk yang ini, gw ga mau banyak komen, simpulkan sendiri lah ya…
Peace.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized
“Gw sadar pada waktu itu kondisi gw lagi idealis-idealisnya”
(jyahahaha…maksudnya apa Baz???)
Albaz yg sekarang sudah liarkah?? wahh wahh/…..
— ato jangan2 liar dan ganjen, dan narsis sedikit buat cari PW ya—
huehehe…
itulah yang namanya transformasi:
dulu: idealis..
sekarang: idealis-realistis-romantis…
buku yang itu lagi
nambahin satu lagi perubahan:
pakai kata ganti “gw”
[SuroBoyo mode : ON]
Gua sopo? Gua**l opo guap**k
[SuroBoyo mode : OFF]
hehe
korban si ikin ni…
soale koncoku sing jenenge gua iku mung loro
btw, kykny artikel ini cocok juga ama…
“Mars Orang Ganteng”
*rasa2nya mau muntah beneran :-&
Ah, masa, sih…?
Seriusan?
Maksudnya…
Apa yang ada di tulisan ini semua bener?
semoga…
terutama di bagian simulasi di tengah-tengah tulisan…
Wehehe.. Ealah,ngasi contonya ekstrim banget,,,
Yap,tapi emang bener banget..Sekalinya nonton infotainment,beritanya samaaaa,ngantek bosen..
“Ketika mendengar berita tersebut untuk pertama kali, respon anda: Gile nih berita, yang bener aja??? Ngaco nih berita.
Kedua kalinya, respon anda: Ah, yang bener? Perasaan biasa aja ah. Standar, gak ganteng-ganteng amat.
Kesepuluh kali: sebenernya gak ganteng sih, tapi enak diliat.
Kelima puluh kali: mmm, sebenernya kalo diliat-liat lagi ada benernya juga sih. Lumayan ganteng juga loh.
Keseratus kali: ganteng.
Kelimaratus kali: ganteng sekali.
Keseribu kali: amat ganteng sekali
Kesejuta kalI: Amat sangat super duper ganteng sekali banget!!!
Kesepuluh juta kali: muntah.”
ndak ngerti, kenapa akhir2nya muntah??
udah nnt rookies? film itu masih terngiang2 di kepalaku..dan semangat filmnya masih terasa di diriku…
subhanallah..J-Dorama yang islami
ngono to mbah…